Kasus Enron dalam keterkaitannya dengan COSO Internal Control: Integrated Framework

Di dalam COSO Internal Control: Integrated Framework, terdapat tujuh elemen pokok di dalam control environment. Pada setiap ketujuh elemen tersebut, akan diulas mengenai implementasi maupun pelanggaran yang dilakukan oleh Enron.

Integrity and Ethical Values

Enron mempunyai nilai yang selalu diberitakan bahwa dijunjung tinggi oleh Enron dan karyawannya, yaitu “brightly colored banners heralding employees’ commitment to Enron’s ‘Vision and Values’: Respect! Integrity! Communication! Excellence!”. Bahkan, Ken Lay dan Jeff Skilling ikut tampil dalam iklannya yang mempromosikan nilai tersebut. Namun hal berbeda dengan kenyataan.

Skilling yang terobsesi dengan rasio-rasio di laporan keuangan, melakukan transaksi yang berdampak pada jangka pendek. Segala usaha, baik beretika maupun tidak, dilakukan demi mencapai naiknya harga saham. Di lain pihak, Andrew Fastow berupaya untuk melakukan berbagai EBK agar mendapat keuntungan pribadi. Karena masing-masing orang tersebut adalah manajemen senior, maka perilaku dan tujuan mereka akan sangat mempengaruhi budaya kantor secara keseluruhan. Seperti pada contohnya, Skilling memberikan bonus yang sangat berlebihan apabila karyawan dapat mencapai target, walaupun belum tentu target tersebut dilakukan dengan etis. Oleh karena itu, kami memutuskan bahwa dalam elemen ini, terdapat defisiensi pengendalian dan bersifat mayor.

Continue reading

2007-2008 Financial Crisis

This is a short piece of story of the 2007-2008 financial crisis, summarized from the ‘Inside Jobs’ movie.. 🙂

Sebelumnya terjadi krisis, terdapat ‘Glass-Steagall Act’ yang mencegah bank-bank besar melakukan merger dan melarang bank untuk melakukan aktivitas investment banking yang memiliki risiko tinggi. Namun, setelah Citicorp dan Travelers melakukan merger, yang seharusnya melanggar ‘Glass-Steagall Act’, terbitlah ‘Gramm-Leach-Bliley Act’ yang menghapus ‘Glass-Steagall Act’. Akibatnya, banyak bank-bank besar yang melakukan merger dan melakukan aktivitas investment banking yang berisiko tinggi dengan menggunakan dana dari nasabah.

Pada old system, pada saat debitur ingin meminjam duit ke kreditur, kreditur akan memeriksa eligibility dari debitur. Hal tersebut dikarenakan pembayaran pinjaman akan dibayarkan ke kreditur. Sedangkan pada new system, pembayaran pinjaman tidak dibayarkan ke kreditur melainkan ke investor.

Continue reading